Shifting#3 Enam Perangkap Dalam Shifting

Read Time:2 Minute, 57 Second

Sahabataksa.com,-Bayangkan apa jadinga IBM (perusahaan yang pernah dikenal sebagai produsen komputer) jika mereka tidak keluar dari industri yang pernah membuat mereka terlena awal abad 20? Anda tahu dulu IBM perusahaan apa? Mereka adalah pembuat mesin pengiris keju dan daging secara mekanik. Sama halnya Nokia yang beralih dari sepatu boots ke telepon seluler, tetapi kemudian terperangkap dalam “product based” saat telepon beralih ke platform digital yang lebih berjejaring dengan smartphone Nokia gulung tikar.

1. Success Trap

Sukses pada masa lalu mengubah mindset kita. Membuat kita memiliki paradigma bahwa keberhasilan (dengan metode itu) masa lalu adalah jaminan sukses masa depan. Padahal, jaminan itu tidak pernah ada. Keberhasilan itu hanya bisa dipertahankan oleh seberapa kuat Anda membuatnya terus relevan.

Sukses adalah perangkap. Ia membuat perusahaan merasa berada di puncak, lalu tak lagi mampu mengidentifikasi langkah-langkah gesit yang dilakukan kompetitornya. Sukses membuat perusahaan merasa tidak ada lagi kompetitor yang mampu mengejarnya.

2, Competency Trap

Membangun kompetensi itu tidak mudah. Beberapa perusahaan mampu menemukan core competency-nya. Sebut saja Carl Zeiss yang fokus pada lensa optikal, Daikin dengan mesin pendingin ruangan, dan Boeing atau Airbus sebagai pembuat pesawat.

Kemampuan membangun kompetensi yang dapat terus didalami memang akan membuat bisnis perusahaan semakin berkembang. Pada saat inilah, jika perusahaan lengah, ia bisa terperosok ke dalam competency trap. Perusahaan lalai mengalokasikan anggaran untuk mengembangkan kompetensi yang mungkin akan sangat relevan bagi masa depan bisnisnya. Mereka lalai bahwa kompetensi yang mereka kuasai dan berhasil mendatangkan keberhasilan sampai saat ini tak akan bertahan selamanya.

3. Sunk Cost Trap

Anda mungkin pernah membaca kata-kata yang diucapkan Warren Buffet, “kalau Anda terpuruk ke dalam sebuah lubang, cara terbaik yang bisa Anda lakukan adalah minimal berhenti menggali tanahnya.”

Kalimat ini begitu powerful, terutama untuk menjelaskan betapa banyak CEO yang menggali lubang terus menerus ketika berhadapan dengan masalah, yakni dengan mendiamkannya.

Ada banyak contoh korporasi yang terkena subk-cost trap. Salah satunya program jet Concorde (Inggris dan Perancis). Meskipun bisnis jet supersonik tersebut menguras modal dan biaya operasional yang sangat mahal, dua negara tetap menjalankannya. Alasannya, sudah terlanjur menjalankan bisnis yang melambangkan kemajuan teknologi.

Bagi perusahaan, penting untuk menyadari adanya jebakan ini agar segera beralih ke portofolio bisnis yang lain, yang lebih menguntungkan. Caranya segera melepas agar kerugian tidak semakin besar.

4. Blame Trap

Perusahaan juga sering terjebak pada blame trap. Kalau ada masalah yang pertama dicari adalah siapa yang harus disalahkan atau yang bisa dijadikan pesakitan.

Bukannya melakukan evaluasi diri, beberapa perusahaan malah sibuk mencari-cari kesalahan pihak lain. Jika tidak ditemukan, lantas menyalahkan kondisi ekonomi makro yang memang buruk.

Blame trap membuat korporasi menjadi malas berbenah. Regulator juga mereka terperangkap untuk mengikuti irama mereka. Padahal, di situlah akar masalahnya. Lalu korporasi juga menjadi manja dan cengeng. Kalau ada masalah, sibuk menuding sana-sini.

5. Cannibalization Trap

Terjadi karena perusahaan menghadirkan produk baru dan produk tersebut dikhawatirkan orang-orang lama akan menggerus pasar produk existing milik sendiri. Contoh klasiknya adalah Kodak yang terdistrupsi oleh kamera digital, padahal produk itu ditemukan oleh Kodak. Itu sebabnya banyak perusahaan sedapat mungkin menahan produk-produk barunya.

Industri kamera digital menjadi contoh nyata bagaimana perusahaan-perusahaan yang menganggap inovasi sebagai penganibalan bisnis existing justru akan tenggelam secara perlahan-lahan.

6. Confirmation Trap

Kondisi ketika korporasi berusaha membenarkan sikap atau pilihan dengan cara meminta konformasi pihak lain. Misalnya, mengundang konsultan atau peneliti untuk memberi “stempel” pembenaran atas kejadian negatif yang menimpa perusahaan.

Perusahaan yang sedikitsedikit bertanya atau meminta konfirmasi itulah yang terjebak dalam perangkap konfirmasi atau Confirmation Trap. Tentu ini akan merepotkan dan menghabiskan banyak biaya. (sumber: Buku Shifting Rhenald Kasali).

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Seberapa bermanfaat posting ini?

Klik pada bintang untuk memberi peringkat!

Penilaian rata-rata 0 / 5. Jumlah suara: 0

Sejauh ini tidak ada suara! Jadilah yang pertama menilai posting ini.

Bagikan! Ke temanmu

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Open chat
1
Butuh Sesuatu?
assalamualaikum apa yang bisa kami bantu?