BIJAK, CERDAS DAN KREATIF BERMEDIA SOSIAL GERAKAN LITERASI DIGITAL BELA NEGARA

Read Time:4 Minute, 39 Second

Menumbuhkan minat baca, senang membaca, kebiasaan membaca, bukanlah sesuatu yang mudah. Ada proses yang harus dipersiapkan dan dilakukan secara terus-menerus dengan dukungan dan fasilitas dari lingkungan. Membaca sebagai bagian dari kegiatan literasi selain menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah sesuai kebutuhan dalam menghadapi kehidupan, sangat berkaitan erat dengan perolehan informasi.

Sahabataksa.com,-Sementara itu, kita tahu bahwa kemajuan suatu bangsa terlihat pada apresiasi warga masyarakatnya terhadap buku atau bahan bacaan. Bisa dipastikan bahwa kualitas suatu bangsa terlihat jelas dari bagaimanan wajah budaya membaca dari anak bangsanya.

Menumbuhkan minat membaca harus diiringi juga dengan kemampuan memahami apa yang dibaca. Apalah artinya mampu membaca tapi tidak paham apa yang dibaca. Pekerjaan rumah (PR) yang harus dipikirkan bagaimana mampu melahirkan generasi dengan budaya membaca dan budaya berliterasi. Orang tua adalah faktor utama dalam menumbuhkan minat baca pada anakdan seluruh anggota keluarga.

Hasil akhir dari proses berliterasi adalah menghasilkan generasi yang tumbuh menjadi pembelajar mandiri, bijak dalam bertindak, cerdas, kreatif, memiliki prinsip belajar sepanjang hayat, siap berpartisipasi di lingkungan sosialnya dan dapat memberikan solusi dari berbagai permasalahan yang ada.

Dalam era digital semacam ini dunia berada dalam genggaman kita. Sekalipun kita hanya berada pada satu tempat dan satu waktu, namun kita dapat memantau keadaan di seluruh dunia, bahkan kita dihubungkan melalui media sosial dengan semua orang. Kita juga tidak dapat membendung arus informasi yang mengalir begitu deras, tidak hanya melalui media massa, namun juga melalui media sosial.

Adanya asumsi bahwa Internet saat ini dapat dengan mudah diakses melalui ponsel pintar atau smartphone pada dasarnya adalah media yang netral, maka manusia sebagai pengguna yang dapat menentukan tujuan media tersebut digunakan dan manfaat yang dapat diambil. Berdasarkan asumsi tersebut, maka pendidikan media dan pemahaman akan penggunaannya menjadi suatu hal yang penting bagi semua orang. Terutama, dalam penelitian ini adalah para mahasiswa yang kerap menggunakan Internet untuk mencari beragam informasi untuk menunjang pendidikannya. Pemahaman dan penggunaan media ini disebut literasi media Internet.

Kemampuan literasi media, khususnya media internet, wajib dimiliki para generasi muda jika tidak ingin tertinggal dan menjadi asing di antara lingkungan yang sudah diterpa arus informasi digital. Diharapkan, literasi media para generasi muda  akan penggunaan media Internet dapat mengurangi efek buruk dari penggunaan media tersebut dan juga informasi yang tidak dapat dipungkiri merembet pada hal negatif seperti: konsumerisme, budaya kekerasan, budaya ngintip pribadi orang, bahkan kematangan seksual lebih cepat terjadi pada usia anakanak (Rahmi, 2013). Oleh karena itu setiap orang diharapkan dapat dengan bijak menggunakan media Internet untuk menambah dan memperluas wawasannya, bukan sekadar media hiburan untuk mengakses online game dan hal lainnya.

Bijak Bermedia Sosial

Anak-anak muda yang sudah sejak lahirnya telah hidup bersama kehadiran internet, justru merupakan generasi yang rentan terhadap berbagai penyalahgunaan teknologi informasi. Mereka adalah kelompok yang paling mudah dipengaruhi, paling efektif untuk ditulari virus negatif, justru karena proses pendewasaan dari sisi pikiran dan psikologi dalam diri mereka tengah berlangsung.

Jika tidak berhati-hati, kelompok ini sangat mudah untuk menjadi korban kejahatan digital, sekaligus banyak dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu, yang kemudian justru merugikan kehidupan masa muda mereka.

Yang paling terlihat adalah ketika fenomena ujaran kebencian, berita bohong, informasi palsu, banyak beredar di media-media sosial maupun media-media online yang tidak jelas kredibilitasnya. EP, seorang anak muda yang harus berurusan hukum karena menyebarkan informasi sesat soal kegiatan jurnalistik. Di Sumatera Barat, ada juga seorang anak muda yang harus berurusan dengan pihak berwajib karena mengubah gambar kepala negara secara digital.

Presiden Jokowi sendiri, dalam rapat terbatas tentang antisipasi media sosial, 29 Desember 2016 lalu telah memberikan 16 butir arahan, yang salah satunya mengajak jajarannya harus memberikan edukasi dan pembelajaran kepada masyarakat mengenai etika berinternet dan sopan santun dalam bermedia sosial. Lebih jauh, Presiden menegaskan dalam rapat tersebut, apabila hal tersebut dibiarkan, akan terjadi tindakan saling lapor, sehingga perlu dilakukan penegakan hukum yang tegas terhadap siapapun yang menyebarkan isu yang tidak benar.

Ada beberapa jenis media social di dunia internet, seperti Facebook, Twitter, GooglePlus,  IG, WhatsApp, Telegram dan Semacamnya.

Media Social ini dibuat untuk menerjemahkan apa yang terjadi di dunia nyata (real) kedalam dunia maya (media  online), yang artinya akan menggambarkan kepribadian kita sesungguhnya.

Menyebarkan informasi yang penting dan bermanfaat adalah tindakan yang sangat bijak dilakukan dibandingkan menyebar kebencian atau hoax karena Internet memiliki dua sisi, yakni sisi negatif dan sisi positif.

Bukankah ketika “Apa yang anda pikirkan” diterjemahkan ke hal yang positif agar pengguna yang lain tidak terpancing untuk melakukan ‘pelanggaran’ dalam bersocial media, sebagaimana ditetapkan dalam aturan menggunakan media elektronik yang tercantum dalam UU ITE N0.11 Tahun 2008 Pasal 28. Dijelaskan pada ayat (1) setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik, (2) setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukkan untuk menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).

Ketika bijak dalam bersocial media tentu pihak manapun tidak akan ada ketersinggungan atau kata lain ‘pelanggaran’ ITE.

Dalam menggunakan social media (kecangihan teknologi) tidak pernah lupa dengan adat istiadat Indonesia, jangan terpancing dengan apa yang ada di Social Media karena itu hanyalah “Dunia Maya”.

Tingginya jumlah pengguna smartphone dengan dilengkapi berbagai perangkat aplikasi media sosial seperti facebook, instagram, tweeter dan lainnya rentan sekali dijadikan sarang penyebaran berita hoax oleh orang-orang yang ingin mengambil keuntungan. Terutama kondisi menjelang Pemilu seperti sekarang ini. Dari hasil survey yang dilakukan oleh Mastel (2017) tentang wabah hoax nasional menemukan bahwa media sosial yang memegang predikat tertinggi sebagai chanel atau saluran berita informasi yang memuat konten hoax adalah facebook dengan perolehan 92,40%, disusul aplikasi chatting 62,80% dan situs web 34,90% diurutan ketiga. (aksa)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Seberapa bermanfaat posting ini?

Klik pada bintang untuk memberi peringkat!

Penilaian rata-rata 0 / 5. Jumlah suara: 0

Sejauh ini tidak ada suara! Jadilah yang pertama menilai posting ini.

Bagikan! Ke temanmu
Open chat
1
Butuh Sesuatu?
assalamualaikum apa yang bisa kami bantu?