Bijak Bermedia Sosial

Read Time:3 Minute, 50 Second

Presiden Jokowi sendiri, dalam rapat terbatas tentang antisipasi media sosial, 29 Desember 2016 lalu telah memberikan 16 butir arahan, yang salah satunya mengajak jajarannya harus memberikan edukasi dan pembelajaran kepada masyarakat mengenai etika berinternet dan sopan santun dalam bermedia sosial. Lebih jauh, Presiden menegaskan dalam rapat tersebut, apabila hal tersebut dibiarkan, akan terjadi tindakan saling lapor, sehingga perlu dilakukan penegakan hukum yang tegas terhadap siapapun yang menyebarkan isu yang tidak benar.

Sahabataksa.com,-Menindaklanjuti hal tersebut, sejak pertengahan akhir Januari 2017 lalu, Kantor Staf Presiden Program Literasi dan Edukasi menggunakan media sosial di kalangan anak muda, dengan menggandeng berbagai kelompok anak muda di berbagai kota di Indonesia.

Ada beberapa jenis media social di dunia internet, seperti Facebook, Twitter, GooglePlus,  IG, WhatsApp, Telegram dan Semacamnya.

Media Social ini dibuat untuk menerjemahkan apa yang terjadi di dunia nyata (real) kedalam dunia maya (media  online), yang artinya akan menggambarkan kepribadian kita sesungguhnya.

Menyebarkan informasi yang penting dan bermanfaat adalah tindakan yang sangat bijak dilakukan dibandingkan menyebar kebencian atau hoax karena Internet memiliki dua sisi, yakni sisi negatif dan sisi positif.

Bukankah ketika “Apa yang anda pikirkan” diterjemahkan ke hal yang positif agar pengguna yang lain tidak terpancing untuk melakukan ‘pelanggaran’ dalam bersocial media, sebagaimana ditetapkan dalam aturan menggunakan media elektronik yang tercantum dalam UU ITE N0.11 Tahun 2008 Pasal 28. Dijelaskan pada ayat (1) setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik, (2) setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukkan untuk menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).

Ketika bijak dalam bersocial media tentu pihak manapun tidak akan ada ketersinggungan atau kata lain ‘pelanggaran’ ITE.

Dalam menggunakan social media (kecangihan teknologi) tidak pernah lupa dengan adat istiadat Indonesia, jangan terpancing dengan apa yang ada di Social Media karena itu hanyalah “Dunia Maya”.

Tingginya jumlah pengguna smartphone dengan dilengkapi berbagai perangkat aplikasi media sosial seperti facebook, instagram, tweeter dan lainnya rentan sekali dijadikan sarang penyebaran berita hoax oleh orang-orang yang ingin mengambil keuntungan. Terutama kondisi menjelang Pemilu seperti sekarang ini. Dari hasil survey yang dilakukan oleh Mastel (2017) tentang wabah hoax nasional menemukan bahwa media sosial yang memegang predikat tertinggi sebagai chanel atau saluran berita informasi yang memuat konten hoax adalah facebook dengan perolehan 92,40%, disusul aplikasi chatting 62,80% dan situs web 34,90% diurutan ketiga.

Pembuat berita hoax tentu memiliki maksud dan tujuan atas tindakannya. Lazimnya, mereka membuat atau menyebarkan berita hoax sebagai upaya membentuk opini masyarakat dengan persepsi yang salah terhadap informasi yang sebenarnya. Modusnya beragam, sebagian berasal dari motivasi sendiri dan tak jarang atas permintaan pihak yang sengaja ingin memperkeruh ruang publik.

Bramy Biantoro (2016) menyebutkan ada empat bahaya yang ditimbulkan berita hoax, yaitu hoax membuang waktu dan uang, hoax jadi pengalih isu, hoax sebagai sarana penipuan publik, dan hoax sebagai pemicu kepanikan publik.

Bila kita telaah lebih lanjut apa yang diungkapkan Biantoro, fenomena hoax yang menjangkiti tanah air merupakan sebuah upaya pembodohan model baru. Bagaimana tidak, ditengah upaya berbagai lembaga organisasi baik pemerintah, swasta dan kelompok-kelompok komunitas sedang getol meningkatkan budaya literasi ke tengah masyarakat justru malah diinfiltrasi peredaran berita bohong.

Berita hoax seolah-olah sengaja dibangun untuk membodohkan generasi bangsa dan cenderung memancing konflik bersaudara. Hoax tak ubahnya sebuah upaya dari strategi politik adu domba. Hal ini tentu mengancam keutuhan suatu bangsa, terutama berkaitan dengan isu SARA yang menyangkut sentimen identitas antar Suku, Agama, Ras dan Golongan. Terutama ditahun politik seperti sekarang ini, tak berlebihan rasanya bila kita menaruh kecurigaan dan menilai hoax sebagai pengalih isu dan sengaja diciptakan supaya bangsa kita menghabiskan waktu berkutat dalam perdebatan remeh-temeh antar kubu.

Di tanah air, Komisi Pemilihan Umum sebagai penyelenggara pesta demokrasi turut mengambil langkah sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran berita hoax. Pada deklarasi pembukaan kampanye damai September 2018 lalu. KPU mengajak peserta Pemilu untuk mensukseskan gelaran pesta demokrasi dengan berkampanye sesuai peraturan Undang-Undang, tertib, damai dan tanpa menggunakan berita bohong.

Langkah atau himbauan yang diambil KPU tentu belum menjamin Pemilu 2019 terbebas dari hoax. Melihat penyebaran berita hoax dilakukan secara terencana dan terorganisir, berbagai unsur lapisan masyarakat tentunya harus turut berpartisipasi dalam memerangi hal ini.

Partisipasi masyarakat bisa diaplikasikan dengan langkah bijak dalam mengakses informasi atau berita. Sifatnya tentu saja tidak hanya sebatas menjelang Pemilu 2019. Meskipun menurut penelitian isu politik seperti Pileg, Pilkada dan Pilpres memiliki daya tarik sendiri untuk dijadikan objek hoax. Tetapi demi berlangsungnya kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh kedamaian dan keharmonisan, masyarakat harus cerdas memilih dan memilah berita supaya tidak mudah terprovokasi. (aksa)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Seberapa bermanfaat posting ini?

Klik pada bintang untuk memberi peringkat!

Penilaian rata-rata 0 / 5. Jumlah suara: 0

Sejauh ini tidak ada suara! Jadilah yang pertama menilai posting ini.

Bagikan! Ke temanmu

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Open chat
1
Butuh Sesuatu?
assalamualaikum apa yang bisa kami bantu?